Palopo, 20 Januari 2026 – Gelombang massa kembali memadati kawasan depan Kantor Walikota Palopo pada Selasa kemarin, menggemakan tekad yang tak pernah padam untuk mewujudkan Provinsi Luwu Raya. Aksi yang berlangsung di tengah orasi dan demonstrasi itu melibatkan ribuan orang yang hadir dalam rangkaian Silaturahmi Nasional Wija To Luwu II serta Seminar Nasional untuk Memperkokoh Komitmen Wija To Luwu bagi Masa Depan Luwu Raya. Tuntutan yang disuarakan bukan lagi sekadar diskursus, melainkan desakan konkret agar pemekaran dari Sulawesi Selatan segera menjadi kenyataan.
Dua tokoh pergerakan yang namanya lekat dengan era Reformasi 98, yakni Ahmad Jais dan Mahading, turut hadir dan memberikan pernyataan tegas di tengah aksi. Mahading, yang merupakan putra Malili di Kabupaten Luwu Timur, menyebut perjuangan ini memiliki akar sejarah yang dalam dan tidak bisa dipisahkan dari peradaban besar Sulawesi Selatan. Ia bahkan menganalogikan kejayaan Luwu Raya dengan kisah epik I La Galigo, yang menurutnya melampaui keagungan Mahabharata dari India.
Dalam orasinya, Mahading mengungkapkan bahwa gagasan pembentukan provinsi ini sebenarnya sudah dirintis sejak dua abad sebelum masehi. Namun, hingga saat ini, cita-cita tersebut kerap kehilangan arah dan selalu terhenti di tengah jalan. Ia melontarkan kritik tajam terhadap pola perjuangan yang dinilainya tidak pernah mengalami kemajuan, hanya berputar-putar tanpa ada evaluasi yang utuh dan menyeluruh.
Ia juga menyampaikan bahwa rekannya, Ashar Mustamin, kerap mengingatkan ihwal kebiasaan pergerakan yang selalu berakhir dari satu seminar ke seminar lain, dari satu demonstrasi ke demonstrasi berikutnya, tanpa kejelasan ujung. Menurut Mahading, seluruh tahapan yang telah dilalui selama ini tidak pernah dikaji ulang secara mendalam, sehingga perjuangan itu ibarat berjalan di tempat tanpa capaian yang signifikan.
Sementara itu, di dalam Aula Ratona, sejumlah putra-putri terbaik Tana Luwu duduk bersama untuk merumuskan langkah bagi masa depan wilayah mereka. Di luar gedung, sorak-sorai massa yang meneriakkan yel-yel “Luwu Raya Jadi Provinsi” terus membahana, mengiringi semangat para punggawa Wija To Luwu. Aksi demonstrasi oleh mahasiswa juga tak kunjung reda di depan pintu masuk kantor walikota, mendesak para pemangku kebijakan agar bersungguh-sungguh memperjuangkan pembentukan provinsi baru ini.
Harapan besar pun ditujukan kepada para senior dan tokoh pergerakan agar tidak lagi membiarkan perjuangan ini berlarut-larut tanpa kepastian. Publik menginginkan langkah nyata, bukan sekadar komitmen di atas podium, agar Provinsi Luwu Raya segera terwujud sebagai hasil kerja keras bersama.








