Menu

Mode Gelap
Sudah Tunaikan Kewajibannya, PT Vale Tidak Terkait Lagi Dengan Ambulan CSR Dukung Penguatan Spiritual, PT PUL Berikan Bantuan Kipas Angin Buat Mesjid Di Ussu BPK Sulsel Respons Aspirasi HMPLT, Siap Pelajari Dugaan Persoalan APBD Luwu Timur HMPLT Demo BPK Sulsel, Desak Audit Investigatif APBD Luwu Timur Makin Menarik, Tak Pernah Tanda Tangan Dukumen Pencairan Keuangan  Direktur PT Malili Suplai Utama Keberatan Dengan Bank Mandiri Banyak Kejanggalan Dalam Pengadaan Ambulan Desa Dari Dana CSR Vale. Erwin Sandi Masih Misteri, Waktunya APH Bertindak

BERITA

Piodalan , Jantung Spiritual Desa Kertoraharjo


					Piodalan , Jantung Spiritual Desa Kertoraharjo Perbesar

OKSON, LUWU TIMUR,- Sore ini , langit Desa Kertoraharjo sedang cantik-cantiknya. Awan putih berbaris rapi seperti ikut upacara. Di bawahnya, halaman Pura Dalem Penataran penuh warna, kuning, putih, merah, dengan sesaji tersusun rapi. Aroma dupa, janur, dan bunga berpadu jadi satu.

Hari ini, umat Hindu Desa Kertoraharjo merayakan Piodalan, ulang tahun pura yang sudah jadi jantung spiritual desa ini.

Seperti biasa, upacara diawali dengan pecaruan. Ritual mensucikan tempat dan sarana-prasarana upacara. Bahasa sederhananya : “dibersihkan dulu, biar upacaranya steril.” Sama seperti kita mau pesta ulang tahun, meja kursi dilap dulu, rumah dibereskan, baru tamu disambut.

Setelah itu, umat mulai menghaturkan piodalan. Doa dan persembahan ditujukan kepada para Dewa, hingga puncaknya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa. Seolah semua energi, harapan, dan doa warga desa terkumpul di satu titik : pura Penataran

Di barisan depan, terlihat Ida Empu Laksita Darma memimpin upacara. Dengan khidmat, beliau memandu jalannya ritual. Suaranya tenang, mantranya mengalun. Dan umat pun larut, duduk bersila, berserah penuh pada Sang Pencipta.

Menariknya, suasana Piodalan selalu punya dua wajah, khidmat dan meriah. Khidmat, karena doa-doa dibacakan. Meriah, karena wajah-wajah umat penuh senyum. Anak-anak ikut duduk bersila, sesekali melirik ke kiri-kanan, mungkin berharap segera ada jajan selepas sembahyang.

Dan seperti semua cerita, upacara juga punya penutup. Disebut penyineban. Bukan berarti selesai, melainkan jeda. Seperti pintu yang ditutup sementara, agar lain hari bisa dibuka lagi dengan sukacita baru.

Piodalan kali ini bukan sekadar ulang tahun pura. Ia jadi pengingat bahwa hidup perlu disucikan, perlu dirayakan, dan perlu ditutup dengan rasa syukur.
Kertoraharjo sore itu tidak hanya berdoa. Ia sedang menulis ulang janjinya kepada Tuhan, dengan dupa, canang, dan hati yang tulus.

( yul.lutim/***)

Baca Lainnya

Sudah Tunaikan Kewajibannya, PT Vale Tidak Terkait Lagi Dengan Ambulan CSR

18 Mei 2026 - 09:51 WITA

Dukung Penguatan Spiritual, PT PUL Berikan Bantuan Kipas Angin Buat Mesjid Di Ussu

16 Mei 2026 - 11:58 WITA

BPK Sulsel Respons Aspirasi HMPLT, Siap Pelajari Dugaan Persoalan APBD Luwu Timur

13 Mei 2026 - 03:24 WITA

Trending di BERITA