Menu

Mode Gelap
Sita Barang Bukti, Penyidik Kejaksaan Negeri Luwu Timur Pastikan Semua Yang Terlibat Pengadaan 26 Unit Ambulan CSR  Akan Diperiksa Ekonom Unhas: PDRB Tinggi Tak Otomatis Membuat Masyarakat Luwu Timur Makmur Formak Lutim Desak Kejati Sulsel Kawal Perkara Dugaan Korupsi Pengadaan Seragam Sekolah dan Ambulan CSR PT Vale Peringati HLH 2026, PT Vale Indonesia IGP Pomalaa Tanam Puluhan Pohon Bersama Stakeholder di SMKN 9 Kolaka Dorong Tenaga Kerja Lokal yang Terampil dan Tersertifikasi, PT Vale Gelar Pelatihan Vokasi Operator Alat Berat Singgah di Nursery PT Vale, Ridwan Andi Wittiri Salut Dengan Kesiapan Program Pasca Tambang PT Vale

BERITA

Berburu Kue Tradisional untuk Berbuka Puasa di Lagota Palopo


					Berburu Kue Tradisional untuk Berbuka Puasa di Lagota Palopo Perbesar

 

OKSON, PALOPO  – Pusat penjualan takjil menu buka puasa Lagota depan Pusat Niaga Palopo (PNP), Kota Palopo, Sulawesi Selatan, setiap sore ramai.

Dari hari pertama Ramadhan hingga hari kelima terus disesaki pedagang dan pembeli hidangan buka puasa atau takjil, dari pukul 15.30 Wita hingga pukul 19.00 Wita.

Berbagai menu dijual mulai dari makanan berat, minuman hingga aneka takjil terkini dan tradisional. Banyak dari pedagang menjual takjil tradisional bugis seperti Abba, Addas, kue pisang lapis gula merah, kue pisang lapis gula putih, Katiri Sallang, Agar-agar gula merah, Agar-agar gula putih dan Lapis serta masih banyak jenis kue tradisional lainnya.

Pedagang takjil tradisional, Nurhaeni (50) mengatakan warga banyak berburu takjil kue-kue tradisional, selain karena rasanya juga karena harganya terjangkau dan mengenyangkan.

“Yang banyak diburu warga seperti Abba, Katiri Sallang dan Lapis, harganya Rp 5.000 per 3 potong,” kata Nurhaeni saat dikonfirmasi di lokasi.

Menurut Nurhaeni dirinya setiap bulan Ramadhan menjual kue tradisional karena disukai warga serta memiliki  aroma khas terutama kue Katiri Sallang.

“Kalau Katiri Sallang dibuat cukup sederhana dari nasi ketan hitam  atau Sokko kemudian di atasnya dibuatkan adonan, prosesnya memang agak sedikit lama sekitar satu jam,” ucap Nurhaeni.

Begitupun dengan kue Abba, juga menjadi primadona warga, dalam sehari bisa laku 8 hingga 20 talang.

“Memang disukai warga bukan cuma dari kota Palopo tapi juga dari luar kota yang membeli bahkan sudah dipesan terlebih dahulu,” ujar Nurhaeni.

“Untuk Kue Lapis dibuat dari beras ketan putih dibungkus daun lalu dimasak, setelah dimasak didiamkan dan dipotong setebal setengah sentimeter, dan dilumuri air gula merah dicampur parutan kelapa muda,” tambah Nurhaeni.

Nurhaeni mengaku penjualan kue tradisional menjadi berkah dalam bulan Ramadhan dengan banyaknya pengunjung yang datang di Lagota untuk membeli takjil.

“Di awal-awal Ramadhan hasil penjualan bisa sampai Rp 2.700.000 kalau sekarang agak turun sedikit karena sudah banyak yang jual seskitar Rp 1.700.000 yah lumayan banyaklah,” tutur Nurhaeni.

Menurut salah seorang pembeli Cut Ade (19) mengatakan dirinya suka membeli kue tradisional untuk dibawa ke masjid untuk acara buka puasa.

“Tadi beli kue Katiri sallang, Abba, Kue pisang dan Lapis. Kue Lapis itu rasanya manis dan gurih enak untuk buka puasa,” jelas Cut Ade.

Baca Lainnya

Sita Barang Bukti, Penyidik Kejaksaan Negeri Luwu Timur Pastikan Semua Yang Terlibat Pengadaan 26 Unit Ambulan CSR  Akan Diperiksa

3 Juli 2026 - 09:04 WITA

Ekonom Unhas: PDRB Tinggi Tak Otomatis Membuat Masyarakat Luwu Timur Makmur

2 Juli 2026 - 13:55 WITA

Formak Lutim Desak Kejati Sulsel Kawal Perkara Dugaan Korupsi Pengadaan Seragam Sekolah dan Ambulan CSR PT Vale

26 Juni 2026 - 13:37 WITA

Trending di BERITA