OKSON, LUWU TIMUR, – Pagi itu jarum jam menunjukkan sudah pukul 06.30 WITA, jam segitu denyut kehidupan di Kota Malili Ibu Kota Kabupaten Luwu Timur sudah menggeliat.
Udara disekitaranya terasa kurang baik, kering dan berkabut asap, karena Luwu Timur lagi dikepung kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sementara dijalanan lalulintas kendaraan dengan pasti membelah pagi pertanda penduduk bumi setempat mulai berpacu dengan waktu.
Pagi itu para orang tua wali murid tampak sibuk mengantar anak – anaknya kesekolah masing – masing.
Mereka mengendarai kendaraan roda dua dan roda empat. Volume kendaraan kian meningkat karena pegawai pemerintah dan swasta juga sudah bergerak untuk masuk kantor.
Ditengah aktivitas yang padat itu, diatas zebra cross yang terhubung dengan pintu gerbang SMPN2 Malili, berdiri sosok perempuan dengan seragam coklat tengah sibuk mengatur arus lalulintas.
Dia tidak sendiri ada juga rekannya. Keduanya terlihat aktif bertukar peran. Disaat yang satu memandu setiap siswa menyeberang jalan, rekannya sibuk mengendalikan arus lalulintas.
Wanita – wanita itu adalah Polisi Wanita ( Polwan ) dari Satuan Lalulintas Polres Luwu Timur.
Demi mengendalikan arus lalu lintas yang aman, polwan itu berkali – kali mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Itu sebuah isyarat tegas agar laju kendaraan melambat bahkan berhenti. Dan dipersilahkan untuk lanjut.
Namun, ada yang berbeda, dibalik ketegasan itu ada balutan senyum yang ramah tak pernah tanggal dari polwan itu.
Sejatinya itu bukan tugas yang ringan. Berdiri ditengah jalan setiap pagi hari mengendalikan arus lalulintas resikonya adalah nyawa. Apalagi di jam sibuk, ego para pengendara kerap memuncak.
Ada yang berkendara dengan tenang, namun tak sedikit yang terburu-buru hingga memacu kendaraan dengan laju. Inilah ujian kesabaran yang sesungguhnya untuk Polwan itu.
Membayangkan tanpa kehadiran petugas lalu lintas di titik krusial ini, arus kendaraan dipastikan akan ruwet, dan keselamatan para siswa bertaruh di aspal jalanan.
Alih-alih tampil tegas dan garang saat
menghadapi semrawutnya jalanan, Polisi Wanita (Polwan) dari Polres Luwu Timur ini memilih pendekatan yang berbeda. Mereka menyapa dengan hati, melayani lewat aksi, dan senjata utamanya adalah senyuman.
“Kata orang polisi itu menakutkan dan garang, tapi setiap pagi saya dibimbing menyeberang jalan, tidak pernah saya dapati mereka marah. Selalu ji tersenyum lembut,” celetuk Eshal Fadilah, seorang siswi kelas 7 SMPN 2 Malili.
Celotehan polos dari seorang anak ini menjadi bukti nyata. Perilaku humanis yang konsisten ditunjukkan para Polwan setiap pagi telah melahirkan kesan mendalam di hati para pelajar. Perlahan namun pasti, ketakutan mereka terhadap sosok polisi luntur, digantikan oleh rasa aman dan kedekatan.
Gerakan otot wajah yang sederhana bernama senyuman itu ternyata memiliki daya kejut yang luar biasa. Ia menjadi jembatan yang meruntuhkan tembok kaku antara aparat dan masyarakat, sekaligus menjawab arah besar reformasi di tubuh Polri.
Dari bebearapa literasi tentang Polisi Lalu Lintas (Polantas) sikap humanis itu penting untuk mengubah kesan kaku di jalan raya demi menciptakan kedekatan dengan masyarakat.
Tugas melindungi masyarakat, menekan angka kecelakaan lalulintas, dengan prinsip satu nyawa melayang di jalan raya ribuan masa depan hilang berhasil diterapkan di Luwu Timur.
Polantas Luwu Timur mampu menerjemahkan visi besar Polri. Mereka berhasil menyapa dengan hati dan melayani lewat aksi. Buah dari itu ada kesan positip yang lahir dari pelajar setingkat SMP.
Di beberapa media di Jakarta, pernah menerbitkan Kakorlantas Polri, Irjen Pol. Wibowo, menegaskan bahwa keselamatan masyarakat adalah prioritas utama. Ia selalu mengingatkan
bahwa satu nyawa yang melayang di jalan raya, berarti ada ribuan masa depan yang ikut hilang. Oleh karena itu, pelayanan Polri kini dituntut untuk semakin dekat, responsif, humanis, prediktif, dan transparan.
Sejumlah literasi psikologi pun mencatat bahwa senyuman bukan sekadar ekspresi wajah. Ia memicu efek domino psikologis dan sosial yang mampu meruntuhkan konflik, membangun kepercayaan, hingga membentuk budaya masyarakat yang damai.
Di ujung zebra cross SMPN 2 Malili, teori-teori sosial itu menjelma menjadi nyata. Lewat senyuman konsisten di pagi hari, para Polwan Luwu Timur tidak hanya sedang menyeberangkan anak sekolah, tetapi juga sedang menyeberangkan persepsi masyarakat dari stigma negatif masa lalu, menuju Polri yang humanis dan dicintai. (oks/***)








