OKSON, LUWU TIMUR,- Satu Dekade perjalanan Pejuang Muda Wija To Cerekang ( PM – WTC ) menjaga Hutan Adat Cerekang bukanlah perkara mudah. Berbagai dinamika mewarnai perjalanan panjang tersebut dalam menjaga kelestarian Hutan Adat Cerekang.
Bagi Warga Desa Manurung Hutan Adat Cerekang bukan sekadar jejak ekologi dan ruang hidup untuk berbagai satwa alam yang berkembang biak didalamnya. Hutan itu juga menjadi penyangga air bagi warga desa Manurung dan sekitarnya.
Hutan Adat Cerekang adalah warisan leluhur yang sangat sakral, yang tidak boleh di kelola, dirusak maupun dimanfaatkan secara serampangan. Apalagi untuk di gusur demi kepentingan bisnis sebuah koorporasi.
Adnan Ketua Pejuang Muda Wija To Cerekang mengatakan Hutan Adat Cerekang berkaitan erat dengan peradaban Luwu, memiliki nilai kultur yang tinggi yang berkaitan erat dengan tokoh-tokoh yang dimuliakan oleh masyarakat adat To Cerekang, seperti Batara Guru dan Sawerigading. Untuk itu ia harus tetap terjaga dan leatari dari generasi ke generasi.
Pejuang Muda WTC, didirikan pada Februari 2016, Sepuluh tahun keberadaannya sudah memberikan kontribusi untuk kelangsungan Hutan Adat Cerekeng. Dan klimaksnya pada 2026 upaya keras mereka dalam menjaga Hutan Adat Cerekang akhirnya diakui negara dengan memberikan penghargaan Kalpataru kepada PM – WTC Luwu Timur.

Syukuran di Tengah Kepungan IUP
Bagi Pengurus PM – WTC, Penghargaan tersebut memang sebuah kebangaan. Atas penghargaa itulah pada Minggu 23 Agustus 2026 mereka menggelar acara syukuran.
Namun dibalik kebahagiaan acara syukuran itu tersirat sebuah kegelisahan yang sangat mendalam. Hampir semua tokoh yang berbicara dalam acara itu tak bisa menyembunyikan rasa khawatir itu.
Mereka khawatir akan kampung mereka, khawatir akan keberadaan Hutan Adat Cerekang. Karena Hutan Adat To Cerekang yang luasnya sekitar 679,407 hektar itu kini sudah di kepung IUP Perusahaan Tambang Nikel. Disana ada IUP PT PUL, Ada IUP PT Tizar Tirzia Trizardi
” Digunung Hutan adat kita terancam oleh IUP Perusahaan Tambang Nikel di wilayah Pesisir hutan adat kita berhadapan dengan warga luar yang ingin menebang hutan bakau untuk membuka lahan empang. Beginilah kondisi kita sekarang. Untuk itu PM – WTC harus terus berjuang mempertahankan warisan leluhur ini. Apalagi saat ini sekitar 20 Hektar wilayah Desa Manurung masuk dalam IUP PT Tizar Tirzia TrizardiĀ ” Ungkap Irwan Jafar Kades Manurung yang juga pembina di organisasi PM – WTC.
Bakratang yang juga Penasehat di organisasi PM – WTC mengingatkan, Warga Desa Manurung tidak boleh jumawa dengan penghargaan Kalpataru tersebut.
” Jadikan Penghargaan Kalpataru ini sebuah spirit untuk terus meningkatkan patroli diseluruh kawasan Hutan Adat To Cerekang. Hutan ini adalah legacy leluhur kita, PM WTC harus terus memberikan pemahaman kepada generasi muda Desa Manurung akan pentingnya Hutan Adat ini. Agar setiap generasi Cerekang tidak lupa akan jati dirinya. Dan untuk mempertahankan hutan adat ini kita tidak boleh mengalah meski sejengkal tanah dari koorporasi yang ingin membabat hutan leluhur kita ini. ” Tegas Bakratang.
Kepala BPBD Luwu Timur, dr. April yang juga hadir dalam acara itu mengatakan, Desa Manurung satu – satunya desa di Kecamatan Malili yang tidak masuk dalam wilayahTanggap Bencana. Salah satu alasannya karena Manurung mampu menjaga kawasan hutan adatnya sampai saat ini.
” Cuma Desa Manurung yang tidak masuk dalam daerah Tanggap Bencana, ya begitulah, kalau kita ramah dengan alam pasti alam juga ramah dengan kita, itulah letak keseimbangannya . ” Ujar dr. April.
Acara ini ditutup dengan menikmati bersama makanan khas daerah tana luwu yaitu Parede, ikan bakar, lawa dan dange. ( okson/***)








