OKSON, LUWU TIMUR, – Sebaiknya pemerintah Luwu Timur menempuh cara damai dalam menyelesaikan pembebasan lahan yang akan dijadikan kawasan industri PT IHIP di Desa Harapan. Malili, Luwu Timur.
Sebab jika menggunakan cara – cara pemaksaan, maka bentrok fisik dipastikan akan pecah dan sudah pasti ada korban dikedua belah pihak.
Perlawanan warga ini sudah diperlihatkan ketika Pemerintah Luwu Timur yang dipimpin Sekda Lutim Ramadhan Pirade dengan ratusan personil Satpol PP ingin melakukan pemasangan papan bicara dan penggusuran kebun petani pada Sabtu ( 14/02/2026).
Hasilnya penertiban lahan ini tidak berjalan mulus karena ratusan petani yang sudah menguasai lahan kebun mereka sejak 2008 kompak melawan jika penggusuran itu dipaksakan.
” Sedangkan mereka yang tidak ada lahannya disini ngotot mau menggusur kami, apa lagi kami yang menjadikan kebun ini sebagai satu – satunya lahan penghidupan pastilah mati – matian mempertahankannya. ” Ungkap Acis. Salah seorang petani yang lahannya akan digusur.
Penertiban Workshop gagal
Rencana penertiban workshop yang ada di pinggir jalan hauling PT CLM juga gagal dilakukan pemerintah Luwu Timur karena semua pemilik workshop melawan tempat usaha mereka dirubuhkan karena mereka menguasai lahan untuk workshop itu dengan cara membeli secara sah dari warga Lampia yang menjualnya.
” Di depan pak sekda saya sebutkan nama – namanya dan saya tunjuk juga orangnya yang suka jual lahan dilampia ini, kebetulan orangnya hadir juga dalam barisan Pak Sekda. Inisialnya T, S dan J dan saya lihat pak Sekda kaget setelah saya sampaikan itu. ” Kata Acis.
Petani Larang Pemasangan Papan Bicara di Lahan Warga Sebelum Ada Kesepakatan
Rencana pemasangan Papan Bicara yang bertuliskan ” Tanah ini milik Pemerintah Luwu Timur ” mendapat penolakan juga dari petani.
” Silahkan pasang tapi jangan dilahan yang dikuasai petani, karena kita belum ada titik temu soal biaya pembebasan lahan petani, jika dipaksakan berarti pemerintah dzalim terhadap warganya sendiri.
Mendengar itu Sekda Lutim, memastikan tidak memasangnya dilahan yang dikelola petani. ” Jelas Irwan.
Nyaris bentrok
Dalam situasai yang tegang tersebut, petani nyaris adu fisik dengan seorang warga Lampia yang memprovokasi petani. Beruntung aparat kepolisian dan TNI yang sejak awal berada di posisi tengah langsung mencegah bentrok fisik tersebut. Sehingga situasi tetap kondusif.
Dialog dengan Bidang Aset Kedua Belah Pihak Sepakat Berunding Lagi
Meskipun dalam situasi yang yang penuh emosi, namun pihak petani dan pemerintah daerah masih membuka diri untuk menyelesaikan biaya pembebasan kebun – kebun warga ini dengan cara berunding.
Hal ini terlihat saat Syamsurizal Kepala Bidang Aset menemui Irwan. Dimana Irwan menyatakan pihaknya siap berdialog untuk mencari solusi yang manusiawi dari ganti rugi lahan tersebut.
” Kita tidak menolak IHIP, tapi hargai juga kami yang menggantungkan hidup dari kebun yang kami kelola ini, mari kita berunding mencari solusi yang terbaik, kami menunggu undangan itu, minta juga pihak IHIP hadir dalam pertemuan itu nantinya. ” Jelas Irwan.
Sekitar pukul 15.00 wita Sekda Lutim dan ratusan personil Satpol PP menarik diri dari lokasi. Namun warga tetap bersiaga dilokasi karena pesan dari Pemerintah Luwu Timur, rencana penggusuran ini akan berlangsung mulai tanggal 14,15,16 Februari 2026. ( oks/***)







