Menu

Mode Gelap
Banyak Mahasiswa Manipulasi Nilai, Tim Khusus Selamatkan 1 M Dana Beasiswa

BERITA

Dari Logico-Philosophicus ke Philosophical Investigations


					Dari Logico-Philosophicus ke Philosophical Investigations Perbesar

(Tulisan bagian pertama)

Oleh : Saifuddin
Direktur Eksekutif LKiS
Penulis Buku ; Politik Tanpa Identitas, Obituari Demokrasi, Elegi Demokrasi
____________________

OKSON, – “Aktfitas bahasa merupakan ciri khas manusia yang dengan bahasa manusia dapat melaksanakan refleksi dan kebebasannya (Chauchard, 1993:11). Bahkan Gadamer mengatakan bahasa merupakan modus operandi dari cara manusia berada di dunia dan merupakan wujud yang seakan-akan merangkul seluruh konstitusi tentang dunia (Sumaryono, 1993: 26)”

Bahasa apapun ragamnya memainkan peran sangat besar dalam kehidupan manusia. “Makna sebuah kata adalah penggunaannya dalam kalimat; makna sebuah kalimat adalah penggunaannya dalam bahasa; makna bahasa adalah penggunaannya dalam berbagai konteks kehidupan.” Bahasa bukan hanya dilihat berdasarkan strukturnya.

Bahasa adalah cerminan nilai-nilai masyarakatnya yang terpantul pada pelbagai tata permainan bahasa yang mereka gunakan. Makna, struktur gramatika atau sintaksis —hal yang selama ini mungkin kita “berhalakan”—hanya salah satu bentuk tata permainan bahasa dari pelbagai tata permainan bahasa dalam kehidupan.

Setiap bahasa juga mempunyai cara tersendiri untuk merepresentasikan objek atau maksud tertentu, terpancar melalui rangkaian kata yang menjadi ayat dalam berbagai konteks kehidupan. Setiap konteks penggunaan bahasa, memiliki peraturan tersendiri kerana aturan penggunaannya menentukan dan menyingkapkan makna bahasa.

Cara berpikir dan bertindak sebuah masyarakat dapat dikenali lewat bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi, karena melalui bahasa kita dapat memperoleh bukti bagaimana sebenarnya sistem konsep yang dimiliki bahasa yang berkaitan.

Sistem konsep tersebut menuntun penuturnya dalam berfikir dan berbahasa serta merumuskan realitas kehidupan yang dapat berwujud simbol-simbol dan kategori gramatikal yang berbeda (Alwy Rahman, 1995:1).

Penggunaan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia yang dilihat melalui pilihan leksikal dalam berinteraksi dan berkomunikasi, dapat menimbulkan kesalahfahaman dan bahkan kesan “lucu” sebab suatu konsep dan objek yang sama dimanifestasikan dengan penggunaan leksikal yang berbeda.

Hal ini merupakan fakta bahwa bahasa berkait erat dengan aktiviti dinamik kekreatifan permainan bahasa yang seterusnya mencerminkan suasana sosial budaya masyarakat yang berkaitan.

Filsafat analitik didefinisikan kurang lebih sebagai serangkaian pendekatan terhadap masalah-masalah filosofis yang menekankan studi bahasa dan analisa logis atas konsep yang terungkapkan lewat bahasa.

Gerakan atau aliran dalam filsafat ini memiliki beragam bentuk, antara lain analisa linguistik, empirisisme logis, positivisme logis, analisis Cambridge, dan “Filsafat Oxford.” Para filosof analitik dan linguistik sepakat bahwa aktivitas filsafat yang paling tepat adalah mengklarifikasi bahasa atau mengklarifikasi konsep. Tujuan aktivitas ini adalah menyelesaikan berbagai perselisihan filsafat dan memecahkan problem-problem filsafat yang dianggap bersumber dari kekacauan penggunaan bahasa.

Pemikiran Wittgenstein
Posisi Wittgenstein mendominasi sejarah filsafat analitik abad ke-20 lewat dua karya besarnya (secara prinsip bertentangan); Wittgenstein-I atau Tractatus Logico-Philosophicus (1921) dan Wittgenstein-II atau Philosophical Investigations (1953). Wittgenstein-I jadi rujukan analisis Cambridge pada tahun-tahun antara dua Perang Dunia dan sumber utama Positivisme Logis Lingkaran Wina sedang Wittgenstein-II menjadi sumber inspirasi utama bagi filsafat analitik yang berkembang seperempat abad setelah akhir Perang Dunia II, berpusat di Oxford dan berpengaruh di wilayah-wilayah dunia berbahasa Inggris.

Wittgenstein-I, berupaya menentukan suatu bahasa ideal bagi filsafat didasarkan logika bahasa yang sempurna, bermakna univok, dan terbatas (Wittgenstein, 1969: 7). Bermaksud mendapatkan bahasa yang seragam (uniformity) dalam bidang filsafat, agar para filsuf terhindar dari kekacauan bahasa.

Mencoba menangkap dasar kesatuan melaui bahasa ideal, sehingga dasar pemikiran lebih bersifat konseptual. Dalil bahwa ada paralelitas antara bahasa dengan realitas, artinya bahasa dipandang sebagai gambar atau cermin realitas (Pitcher, 1964: 78).

Dalam Wittgenstein-II berubah secara radikal ketika pluriformitas lebih menonjol dalam kehidupan konkrit. Univokalitas dalam Wittgenstein-I kemudian ditinggalkan, sebab Wittgenstein-II lebih menekankan pada penggunaan bahasa sehari-hari. Bahasa sehari-hari mengandung keberagaman yang membentuk permainan bahasa atau Language-Games (Lyotard, 1989: 10; Charlesworth, 1959: 104).

Pluriformitas merupakan kenyataan konkrit yang tak terbantahkan dan begitu banyak permainan bahasa yang berlangsung sesuai dengan aturan mainnya masing-masing. Peranan penting sebuah aturan permainan tersebut dicontohkan dalam permainan catur (Wittgenstein, 1983: 12 dan 150). Wittgenstein II mencoba menangkap realitas sebagaimana adanya, sehingga dasar pemkirannya lebih bersifat realistik.

Sebelumnya Wittgenstein mengatakan bahwa bahasa yang memiliki makna hanyalah bahasa deskriptif, kini ia menyangkalnya dengan mengajukan konsep “language game” (aturan atau tata bahasa). Bahasa deskriptif menurutnya hanya salah satu bentuk saja dalam keseluruhan penggunaan bahasa.

Arti kata-kata hanya dapat dipahami dalam kerangka acuan aturan bahasa yang digunakan. Satu kata yang sama bila digunakan dalam tata bahasa dengan aturan pakai yang berbeda, akan mendapat arti yang berbeda. Arti suatu kata selalu dapat berubah, tergantung penggunaannya. Kata “kiri” dapat merupakan “lawan dari kanan”, atau bisa berarti “paham beraliran progresif”, atau juga bermakna “harap berhenti” alias “stop!” pengemudi kendaraan.

Begitulah cara kita mngenal bahasa dalam filsafat. ( OKSON/***)

Baca Lainnya

Dorong Keterbukaan Informasi, PT Vale Beberkan Komitmen Keberlanjutan di Hadapan Pemerintah Desa dan Kecamatan di Area Pemberdayaan Morowali

12 Februari 2026 - 04:04 WITA

Presiden Prabowo Harus Tahu, Sertifikat HPL Pemda Lutim Diduga Terbit Secara Ilegal

12 Februari 2026 - 03:49 WITA

Pertemuan Pemda Lutim Dengan Petani Laoli Hanya Menghasilkan Pertengkaran Saja

11 Februari 2026 - 13:57 WITA

Trending di BERITA