Menu

Mode Gelap
Banyak Mahasiswa Manipulasi Nilai, Tim Khusus Selamatkan 1 M Dana Beasiswa

BERITA

Ada Kisah Dibalik Lomba Kuliner Di Lapandoso


					Ada Kisah Dibalik Lomba Kuliner Di Lapandoso Perbesar

OKSON, BUA – Cuaca siang itu sangat bersahabat, di langit, gumpalan awan putih yang tebal saling bertaut membungkus matahari. Seakan tidak rela mahluk dibawahnya kepanasan.

Pantai Lapandoso juga terlihat tenang, tak terdengar deburan ombak menghempas pantai. Hutan mangrove yang subur disepanjang pantai membuat suasana terasa sejuk.

Tak jauh dari situ, di halaman gerai Lapandoso, dibalik tenda biru warga Pabbaresseng berdesakan di bawahnya. Semua berdiri tegak. Lagu Indonesia Raya berkumandang. Lalu disusul “Hari Merdeka”. Suaranya tidak serempak. Tapi semangatnya tetap menyala.

Di sela kerumunan, terlihat prajurit TNI. Ada Polri. Ada juga mahasiswa. Mereka berbaur. Tidak ada jarak pangkat. Hari itu semua sama yaitu rakyat yang merdeka.

Di depan mereka, tertata meja panjang yang sudah dirias indah, penuh aroma. Diatasnya menu khas Luwu berjejer menunggu nasib.

Hari itu bukan hari biasa. Hari digelarnya lomba kuliner. Diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Pabbaresseng, Kecamatan Bua. Untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-80.

Pesertanya,? semua dusun ikut. Labuang. Salukaroe. Muladimeng. Kapopang. Tidak mau kalah. Mereka datang dengan misi menjadi yang terbaik.

Menunya? Jangan ditanya. Kapurung aroma patikala. Lawa ikan pepaya. Parede. Sayur Paku. Sayur umbut kelapa sawit. Bandeng Bakar. Sambal pa jeje. Dange. Sate joi. Plus es buah yang segar. Siapa pun pasti tergoda melihat makanan lezat ini.

Emak-emak tampil sebagai jagoan. Mereka bukan amatiran, Dapur adalah panggung mereka sejak puluhan tahun.

Mereka sudah terbiasa mengulek bumbu dengan cinta. Maka ketika racikan itu bertemu wajan, aroma langsung memukul hidung. Wanginya menggoda. Menggugah rasa, jangan coba kalau tidak siap ketagihan.

Juri pun bingung. Semua makanan yang disaji enak. Semua layak menang. “Selain rasa, tema juga jadi pertimbangan,” kata Israil, salah satu juri, sambil melepas senyum getir.

Karena memilih pemenang kadang lebih susah daripada memilih ikan bandeng yang dibakar.

Kepala Desa Pabbaresseng, Bugedang, punya alasan tersendiri menggelar lomba kuliner ini di Lapandoso.

Lapandoso bukan sekadar pantai rekreasi. Tempat ini punya histori. Lapandoso adalah titik awal peradaban islam tana luwu.

Di sinilah Datuk Sulaeman pertama kali menginjakkan kakinya dalam misi besarnya menyebarkan ajaran islam di Kedatuan Luwu. Dan dari sini juga
ajaran itu menembus istana kedatuan Luwu. Dan berhasil mengislamkan Datu Luwu La Patiware Daeng Parabu. Lalu mengalir ke seluruh Tana Luwu dan menjadi agama mayoritas pemeluknya di Sulawesi Selatan.

“Anak-anak yang datang ke sini tidak sekadar bersenang-senang,” kata Bugedang. “Mereka harus tahu bahwa Lapandoso itu adalah bahagian sejarah masa lampau yang harus tetap lestari.

Tak jauh dari gerai Lapandoso, ada monumen Lapandoso. Penanda jejak pendaratan itu. Pemerintah desa merawatnya dengan baik. Menanam mangrove disekelilingnya untuk menahan abrasi. Agar sejarah tidak hilang dimakan gelombang.

Masalahnya? Jalan. Akses masih harus diperbaiki. Kalau tidak, monumen itu akan tetap sepi.

Akhirnya juri sudah memutuskan, juara I diraih Dusun Salukaroe, Juara II Dusun Muladimeng , Juara III Dusun Kapopang dan Juara IV Dusun Labuang .

Sejatinya, hari ini bukan soal siapa yang menang atau yang kalah. Karena itu hanya warna dalam memeriahkan Kemerdekaan RI.

Antara Kemerdekaan RI dan Lapandoso ada ruh yang saling menguatkan, yaitu sama – sama tidak ingin dilupakan. Karena keduanya butuh dirawat. Bukan sekadar dirayakan. ( okson/***)

Baca Lainnya

Peringati Hari Pers Nasional Ke-80, Kapolres Sebut Pers Mitra Strategis

10 Februari 2026 - 09:55 WITA

PT ANN Diminta Tak Langgar Aturan Jasa Konstruksi Dalam Tender Proyek Jembatan

10 Februari 2026 - 08:23 WITA

PT Vale Akan Ganti Total Jembatan Yang Amblas, Warga Haturkan Terimakasih

10 Februari 2026 - 03:49 WITA

Trending di BERITA