Menu ✖

Otomatis
Breaking News

BERITA

Menjaga Harapan di Tanah Merica: Cerita Dari Loeha Raya tentang Ruang Hidup, Perempuan, Dan Masa Depan yang Inklusif

Menjaga Harapan di Tanah Merica: Cerita Dari Loeha Raya tentang Ruang Hidup, Perempuan, Dan Masa Depan yang Inklusif Perbesar

OKSON, LUWU TIMUR,-Di balik rimbunnya kebun merica yang menyelimuti perbukitan Loeha Raya, tersembunyi cerita tentang perjuangan, ketahanan, dan harapan akan masa depan yang lebih inklusif. Konflik wacana antara pelestarian lingkungan dan kebutuhan ekonomi masyarakat memang nyata, namun ada juga suara-suara yang lebih tenang—yang mengajak duduk bersama, bukan saling menunjuk.

Fatmawati, warga Loeha yang kini menjalankan usaha kecil di bidang kuliner, mengenang bagaimana tiga tahun lalu ia masih berdiri di garis yang menolak aktivitas tambang. Namun, waktu dan pengalaman mengajarkannya bahwa membangun masa depan bukan hanya tentang menolak, tapi juga tentang membuka pintu dialog.

“Ada waktunya kita bicara keras, tapi ada waktunya kita mendengarkan. Saya melihat PT Vale membuka ruang untuk keterlibatan perempuan, untuk UMKM, dan saya ingin itu tumbuh. Saya ingin anak saya punya lebih banyak pilihan pekerjaan daripada yang saya punya dulu,” ujar Fatmawati.

Antara Lada dan Lapangan Kerja

Tidak bisa dipungkiri, merica adalah nadi ekonomi Loeha. Namun, seperti yang disampaikan Buana, seorang petani sekaligus ibu rumah tangga dari Desa Loeha, hasil dari kebun merica tidak selalu mencukupi semua kebutuhan rumah tangga. “Ladang saya tidak besar, dan harga merica fluktuatif. Kadang saya harus menjual ayam atau pinjam ke tetangga kalau anak sakit. Saya berharap, kalau ada tambang, kami bisa ikut serta dan tidak sekadar jadi penonton,” katanya.

Buana, yang dulunya aktif dalam gerakan penolakan, kini memilih sikap yang lebih kolaboratif. “Kami bukan melupakan perjuangan, tapi kami juga butuh solusi. Kalau ada ruang untuk masyarakat terlibat, kenapa tidak kita manfaatkan?”

Tidak semua hal tentang industri tambang berjalan mulus. Bahkan warga seperti Fatmawati dan Buana mengakui akan tetap bersuara bila ada kebijakan yang merugikan masyarakat. Namun mereka juga percaya bahwa solusi tidak lahir dari konfrontasi tanpa akhir.

Sebaliknya, pendidikan dan pemberdayaan menjadi kunci. Inisiatif untuk mendukung UMKM perempuan, program pelatihan untuk generasi muda, hingga upaya membangun infrastruktur sosial seperti posyandu dan sekolah menjadi bukti bahwa pembangunan bisa bersifat manusiawi jika dilakukan bersama.

“Yang kami butuhkan bukan belas kasih, tapi kemitraan yang adil,” ujar Fatmawati sambil menatap hamparan kebun kecilnya.

Menanam Harapan di Tanah Sendiri

Di tengah beragam suara, satu hal yang pasti: masyarakat Loeha Raya adalah penjaga tanah mereka sendiri. Mereka tahu kapan harus berkata cukup, tapi juga tahu kapan harus membuka ruang baru untuk harapan. Bagi mereka, masa depan tidak harus menjadi pilihan antara lada atau tambang, antara tradisi atau teknologi—tapi tentang bagaimana semua pihak bisa bekerja sama menjaga keseimbangan.

Dan mungkin, dari Loeha Raya, kita belajar bahwa keberlanjutan sejati dimulai dari kesediaan untuk saling mendengarkan.

( OKSON/***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Dari Pendampingan hingga Akses Pasar, PT Vale Hadirkan Produk UMKM Binaan di Kriyanusa 2026

28 Sep 2026 - 00:47 WITA

Dari Pendampingan hingga Akses Pasar, PT Vale Hadirkan Produk UMKM Binaan di Kriyanusa 2026

Bangun Fire Shelter Pertama di Kecamatan Bungku Timur, PT Vale Dorong Kesiapsiagaan Darurat Kebakaran

26 Sep 2026 - 07:50 WITA

Bangun Fire Shelter Pertama di Kecamatan Bungku Timur, PT Vale Dorong Kesiapsiagaan Darurat Kebakaran

Petani Laoli Tolak Bansos Pemkab Lutim Karena Logikanya Salah

25 Sep 2026 - 01:48 WITA

Petani Laoli Tolak Bansos Pemkab Lutim Karena Logikanya Salah
Trending di BERITA