BERITA
Dari Logico-Philoshophicus Ke Philoshophical Investigations
Perbesar
(Tulisan ketiga)
Oleh : Saifuddin
Direktur Eksekutif LKiS
Penulis Buku ; Politik Tanpa Identitas, Obituari Demokrasi, Elegi Demokrasi
————————-
OKSON, – “bagaimana bahasa menjelaskan proposisi pada nilai benar atau salah adalah menjadi bagian pencarian dalam ilmu pengetahuan “
Penjelasan logis atas pemikiran dilakukan dengan penjelasan atas proposisi-proposisi (kalimat-kalimat dengan pengertian). Ketiga, tugas negatif filsafat masa depan adalah memperlihatkan ketidak-sahihan penegasan-penegasan metafisis dengan menjelaskan cara di mana usaha untuk mengatakan apa yang diperlihatkan oleh bahasa melampaui, atau melanggar, batas-batas pengertian.
Keempat, berusaha menjelaskan watak dasar tanda proposisi dengan menguraikan bentuk proposisi umum, yakni dengan memberi “suatu deskripsi atas proposisi-proposisi tanda-bahasa apa pun sedemikian rupa sehingga setiap pengertian yang mungkin bisa diungkapkan oleh suatu simbol yang sesuai dengan deskripsi tersebut, dan setiap simbol yang sesuai dengan deskripsi tersebut dapat mengungkapkan suatu pengertian, asalkan makna nama-namanya dipilih dengan tepat. Kelima, penyelidikan logis atas fenomena, penyingkapan bentuk-bentuk logis mereka, yang tidak dilakukan di dalam buku ini, akan dilakukan dengan analisis logis atas deskripsi linguistik fenomena. (Langkah pertama dalam menjalankan tugas ini dilakukan dalam tulisan pada 1929, “Some Remaks on Logical Form”, namun keseluruhan proyek tersebut gagal).
Karena sintaksis logis bahasa pasti, dan harus, isomorfis dengan bentuk-bentuk logico-metafisis dunia. Keenam, pencapaian terbesar buku ini, sebagaimana dilihat oleh Lingkaran Wina, adalah penjabarannya atas watak keniscayaan logis. Hal ini dilakukan dengan suatu penyelidikan atas simbolisme. Bahwa seseorang dapat mengenali kebenaran suatu proposisi logis hanya dari simbol dianggap merupakan inti pandangan filsafat logika.[20]
Wittgenstein II mengembangkan paradigma yang berlawanan dengan bahasa ideal berdasarkan logika. Wittgenstein II mendasarkan objek material filsafatnya pada bahasa sehari-hari yang digunakan manusia. Jika Wittgenstein-I mendasarkan pemikirannya pada satu bahasa ideal yang memenuhi syarat logika, maka Wittgenstein-II mendasarkan pada bahasa biasa yang bersifat beraneka ragam.
Inti pemikiran Wittgenstein-II adalah ‘tata permainan bahasa’ (language games). Hakikat bahasa adalah penggunaannya dalam berbagai macam konteks kehidupan manusia. Oleh karena itu, terdapat banyak permainan bahasa yang sifatnya dinamis, tidak terbatas sesuai dengan konteks kehidupan manusia. Setiap konteks kehidupan manusia menggunakan satu bahasa tertentu, dengan menggunakan aturan yang khas dan tidak sama dengan konteks penggunaan lainnya.
Berdasarkan macamnya, terdapat banyak penggunaan bahasa yang masing-masing memiliki aturan sendiri-sendiri dan hal itu merupakan suatu nilai. Misalnya penggunaan bahasa dalam memberikan perintah dan mematuhinya, melaporkan suatu kejadian, berspekulasi mengenai suatu peristiwa, menyusun cerita dan membahasnya, bermain acting, membuat lelucon, berterima kasih, berdoa, menguji suatu hipotesis dan penggunaan bahasa lainnya (Wittgenstein, 1983;23).
Wittgenstein berkesimpulan bahwa makna sebuah kata adalah penggunaannya dalam kalimat, makna sebuah kalimat adalah penggunaannya dalam bahasa, dan makna bahasa adalah penggunaannya dalam berbagai konteks kehidupan manusia. Dalam pemikirannya yang kedua ini, Wittgenstein tidak lagi mendasarkan pada bahasa ideal dan logis, tetapi mengembangkan pemikiran tentang pluralitas bahasa dalam kehidupan manusia.
Teori permainan bahasa Wittgenstein tidak dapat dilepaskan dari penggunaan bahasa sehari-hari yang sifatnya sederhana sebagai penyempurnaan teori gambar (picture theory). Untuk menggambarkan sesuatu yang abstrak—yang tidak dapat dijelaskan atau digambarkan secara langsung dengan menggunakan bahasa—Wittgenstein menggunakan strategi metafora dan analogi. Alasan ini akhirnya melahirkan Wittgenstein II yang dinamakan Permainan Bahasa; bahwa bahasa yang digunakan manusia dalam interaksi dan komunikasi sehari-hari memiliki aturan tersendiri. Analisis bahasa dalam penggunaannya dalam konteks-konteks tertentulah yang dapat meningkatkan pemahaman dan membuat sebuah tanda yang lebih hidup dan bermakna.
Makna kata dapat difahami secara mendalam berdasarkan kerangka acuan permainan bahasa dalam sesuatu bahasa yang digunakan. Metafora digunakan untuk merujuk kepada gejala penggantian kata yang harfiah atau kata lain yang figuratif dan yang menjadi dasar penggantian adalah prinsip kemiripan atau analogi (Kris, 1999:73). Metafora dan analogi (persamaan) ibarat strategi imaginasi yang bersifat puitik dan merupakan ungkapan yang penuh dengan kiasan. Metafora dan analogi bersatu atau berintegrasi dalam kehidupan sehari-hari—bukan saja dalam bahasa, tetapi juga dalam fikiran dan perbuatan (tindakan).
Metafora adalah pemakaian kata atau ungkapan lain untuk objek atau konsep lain berdasarkan kias atau persamaan (Harimurti Kridalaksana, 1984:123). Analogi pula adalah proses atau hasil pembentukan unsur bahasa kerana pengaruh pola lain dalam bahasa (Harimurti Kridalaksana, 1984:13).
Semua kalimat yang bukan gambaran atomik dari rangkaian obyek atau gabungan fungsi-kebenaran (truth-functional) dapat dipastikan tak bermakna. Contoh dari kalimat-kalimat seperti ini, antara lain, adalah proposisi-proposisi etika dan estetika, semua proposisi yang berkenaan dengan makna hidup, semua proposisi logika, bahkan semua proposisi filosofis, dan terakhir semua proposisi yang ada dalam Tractatus itu sendiri. Meskipun semua proposisi ini tidak bermakna, namun mereka bertujuan mengatakan sesuatu yang penting: apa yang berusaha mereka ungkapkan dalam kata-kata sebenarnya hanya bisa ditunjukkan.
Dengan demikian, Wittgenstein menyimpulkan bahwa siapapun yang memahami Tractatus akhirnya akan membuang proposisi-proposisinya sebagai sesuatu yang tidak bermakna: mereka akan membuang tangga setelah mereka berhasil naik ke puncak. Orang yang telah mencapai keadaan itu tidak akan lagi punya keinginan untuk mengungkapkan proposisi-proposisi filosofis. Ia akan menatap dunia secara langsung dan apa adanya, dan akan menyadari bahwa satu-satunya proposisi yang benar-benar bermakna hanyalah proposisi-proposisi ilmu alam; namun ilmu alam tidak pernah dapat menyentuh apa yang benar-benar penting dalam kehidupan manusia, yakni yang-mistis.
Bahwa hal-hal yang bersifat etis, estetis, dan metafisis, bukanlah bagian dari (fakta) dunia, jika kita menerima dunia sebagaimana yang didefinisikan Wittgenstein dalam tesis pertama bukunya ini: “Dunia adalah segala sesuatu yang demikian adanya (The world is all that is the case).” Apa yang etis, estetis, dan metafisis sering kali adalah tafsiran kita terhadap fakta, terhadap sesuatu yang demikian adanya (“what is the case”).
Fakta di defenisikan untuk di pahami sebagai ilmu pengetahuan, demikianlah bahasa menjelaskannya.
( OKSON /***)
BERITA
Dari Logico-Philoshophicus Ke Philoshophical Investigations
Perbesar
(Tulisan ketiga)
Oleh : Saifuddin
Direktur Eksekutif LKiS
Penulis Buku ; Politik Tanpa Identitas, Obituari Demokrasi, Elegi Demokrasi
————————-
OKSON, – “bagaimana bahasa menjelaskan proposisi pada nilai benar atau salah adalah menjadi bagian pencarian dalam ilmu pengetahuan “
Penjelasan logis atas pemikiran dilakukan dengan penjelasan atas proposisi-proposisi (kalimat-kalimat dengan pengertian). Ketiga, tugas negatif filsafat masa depan adalah memperlihatkan ketidak-sahihan penegasan-penegasan metafisis dengan menjelaskan cara di mana usaha untuk mengatakan apa yang diperlihatkan oleh bahasa melampaui, atau melanggar, batas-batas pengertian.
Keempat, berusaha menjelaskan watak dasar tanda proposisi dengan menguraikan bentuk proposisi umum, yakni dengan memberi “suatu deskripsi atas proposisi-proposisi tanda-bahasa apa pun sedemikian rupa sehingga setiap pengertian yang mungkin bisa diungkapkan oleh suatu simbol yang sesuai dengan deskripsi tersebut, dan setiap simbol yang sesuai dengan deskripsi tersebut dapat mengungkapkan suatu pengertian, asalkan makna nama-namanya dipilih dengan tepat. Kelima, penyelidikan logis atas fenomena, penyingkapan bentuk-bentuk logis mereka, yang tidak dilakukan di dalam buku ini, akan dilakukan dengan analisis logis atas deskripsi linguistik fenomena. (Langkah pertama dalam menjalankan tugas ini dilakukan dalam tulisan pada 1929, “Some Remaks on Logical Form”, namun keseluruhan proyek tersebut gagal).
Karena sintaksis logis bahasa pasti, dan harus, isomorfis dengan bentuk-bentuk logico-metafisis dunia. Keenam, pencapaian terbesar buku ini, sebagaimana dilihat oleh Lingkaran Wina, adalah penjabarannya atas watak keniscayaan logis. Hal ini dilakukan dengan suatu penyelidikan atas simbolisme. Bahwa seseorang dapat mengenali kebenaran suatu proposisi logis hanya dari simbol dianggap merupakan inti pandangan filsafat logika.[20]
Wittgenstein II mengembangkan paradigma yang berlawanan dengan bahasa ideal berdasarkan logika. Wittgenstein II mendasarkan objek material filsafatnya pada bahasa sehari-hari yang digunakan manusia. Jika Wittgenstein-I mendasarkan pemikirannya pada satu bahasa ideal yang memenuhi syarat logika, maka Wittgenstein-II mendasarkan pada bahasa biasa yang bersifat beraneka ragam.
Inti pemikiran Wittgenstein-II adalah ‘tata permainan bahasa’ (language games). Hakikat bahasa adalah penggunaannya dalam berbagai macam konteks kehidupan manusia. Oleh karena itu, terdapat banyak permainan bahasa yang sifatnya dinamis, tidak terbatas sesuai dengan konteks kehidupan manusia. Setiap konteks kehidupan manusia menggunakan satu bahasa tertentu, dengan menggunakan aturan yang khas dan tidak sama dengan konteks penggunaan lainnya.
Berdasarkan macamnya, terdapat banyak penggunaan bahasa yang masing-masing memiliki aturan sendiri-sendiri dan hal itu merupakan suatu nilai. Misalnya penggunaan bahasa dalam memberikan perintah dan mematuhinya, melaporkan suatu kejadian, berspekulasi mengenai suatu peristiwa, menyusun cerita dan membahasnya, bermain acting, membuat lelucon, berterima kasih, berdoa, menguji suatu hipotesis dan penggunaan bahasa lainnya (Wittgenstein, 1983;23).
Wittgenstein berkesimpulan bahwa makna sebuah kata adalah penggunaannya dalam kalimat, makna sebuah kalimat adalah penggunaannya dalam bahasa, dan makna bahasa adalah penggunaannya dalam berbagai konteks kehidupan manusia. Dalam pemikirannya yang kedua ini, Wittgenstein tidak lagi mendasarkan pada bahasa ideal dan logis, tetapi mengembangkan pemikiran tentang pluralitas bahasa dalam kehidupan manusia.
Teori permainan bahasa Wittgenstein tidak dapat dilepaskan dari penggunaan bahasa sehari-hari yang sifatnya sederhana sebagai penyempurnaan teori gambar (picture theory). Untuk menggambarkan sesuatu yang abstrak—yang tidak dapat dijelaskan atau digambarkan secara langsung dengan menggunakan bahasa—Wittgenstein menggunakan strategi metafora dan analogi. Alasan ini akhirnya melahirkan Wittgenstein II yang dinamakan Permainan Bahasa; bahwa bahasa yang digunakan manusia dalam interaksi dan komunikasi sehari-hari memiliki aturan tersendiri. Analisis bahasa dalam penggunaannya dalam konteks-konteks tertentulah yang dapat meningkatkan pemahaman dan membuat sebuah tanda yang lebih hidup dan bermakna.
Makna kata dapat difahami secara mendalam berdasarkan kerangka acuan permainan bahasa dalam sesuatu bahasa yang digunakan. Metafora digunakan untuk merujuk kepada gejala penggantian kata yang harfiah atau kata lain yang figuratif dan yang menjadi dasar penggantian adalah prinsip kemiripan atau analogi (Kris, 1999:73). Metafora dan analogi (persamaan) ibarat strategi imaginasi yang bersifat puitik dan merupakan ungkapan yang penuh dengan kiasan. Metafora dan analogi bersatu atau berintegrasi dalam kehidupan sehari-hari—bukan saja dalam bahasa, tetapi juga dalam fikiran dan perbuatan (tindakan).
Metafora adalah pemakaian kata atau ungkapan lain untuk objek atau konsep lain berdasarkan kias atau persamaan (Harimurti Kridalaksana, 1984:123). Analogi pula adalah proses atau hasil pembentukan unsur bahasa kerana pengaruh pola lain dalam bahasa (Harimurti Kridalaksana, 1984:13).
Semua kalimat yang bukan gambaran atomik dari rangkaian obyek atau gabungan fungsi-kebenaran (truth-functional) dapat dipastikan tak bermakna. Contoh dari kalimat-kalimat seperti ini, antara lain, adalah proposisi-proposisi etika dan estetika, semua proposisi yang berkenaan dengan makna hidup, semua proposisi logika, bahkan semua proposisi filosofis, dan terakhir semua proposisi yang ada dalam Tractatus itu sendiri. Meskipun semua proposisi ini tidak bermakna, namun mereka bertujuan mengatakan sesuatu yang penting: apa yang berusaha mereka ungkapkan dalam kata-kata sebenarnya hanya bisa ditunjukkan.
Dengan demikian, Wittgenstein menyimpulkan bahwa siapapun yang memahami Tractatus akhirnya akan membuang proposisi-proposisinya sebagai sesuatu yang tidak bermakna: mereka akan membuang tangga setelah mereka berhasil naik ke puncak. Orang yang telah mencapai keadaan itu tidak akan lagi punya keinginan untuk mengungkapkan proposisi-proposisi filosofis. Ia akan menatap dunia secara langsung dan apa adanya, dan akan menyadari bahwa satu-satunya proposisi yang benar-benar bermakna hanyalah proposisi-proposisi ilmu alam; namun ilmu alam tidak pernah dapat menyentuh apa yang benar-benar penting dalam kehidupan manusia, yakni yang-mistis.
Bahwa hal-hal yang bersifat etis, estetis, dan metafisis, bukanlah bagian dari (fakta) dunia, jika kita menerima dunia sebagaimana yang didefinisikan Wittgenstein dalam tesis pertama bukunya ini: “Dunia adalah segala sesuatu yang demikian adanya (The world is all that is the case).” Apa yang etis, estetis, dan metafisis sering kali adalah tafsiran kita terhadap fakta, terhadap sesuatu yang demikian adanya (“what is the case”).
Fakta di defenisikan untuk di pahami sebagai ilmu pengetahuan, demikianlah bahasa menjelaskannya.
( OKSON /***)
Baca Lainnya
Trending di BERITA