Menu ✖

Otomatis
Breaking News

BERITA

Sulaeman Roka Disabilitas yang Sukses Dalam Balutan Hilirisasi PT Vale

Sulaeman Roka Disabilitas yang Sukses Dalam Balutan Hilirisasi PT Vale Perbesar

OKSON, LUWU TIMUR – Matahari siang begitu menyengat ketika menjejakkan kaki di Desa Matompi Kecamatan Towuti Kabupaten Luwu Timur. Hembusan angin kering nan berdebu tak kuasa menawar hawa panas yang muncul akibat musim kemarau yang berkepanjangan.

Alam desa ini sangat merana karena hampir semua bentang alamnya diselimuti kabut putih asap kebakaran hutan dan lahan ( Karhutla ).

Dibawah tekanan cuaca yang ekstrem itu warga memilih berada didalam rumah membuat Desa menjadi sepi seperti desa mati.

Dibalik kesepian itu, dari jalan poros tak jauh dari gerbang desa, kotek dan kokok ayam terdengar menggema membelah kesunyian desa.

Suara bising itu datang dari sebuah kandang milik Sulaeman Roka, Ketua Kelompok Woliko yang tengah menggeluti usaha peternakan ayam kampung unggul Balitbangtan ( KUB).

Bagi tetangga, bunyi itu bukanlah gangguan. Buat Sulaeman, bunyi itu adalah irama hidupnya. Pemuda kelahiran 1985 ini adalah seorang penyandang disabilitas daksa dimana kedua kakinya lumpuh.

Hampir lima tahun terakhir ia beternak ayam KUB. Dari usaha itu, kelompoknya meraup laba Rp.41 Juta setiap 75 hari satu siklus panen.

Kisahnya berjalan di tengah program pemberdayaan masyarakat PT Vale Indonesia yang menyasar kelompok rentan di Towuti. Ia sendiri penerima manfaat dari produk hilirisasi tersebut. Bertekat usaha yang digelutinya ini ajang pembuktian diri, dimana orang dengan disabilitas bisa juga berdaya, tanpa harus meminta belas kasihan.

Lumpuh di Bangku Kelas V SD

Sejatinya Sulaeman tidak lahir dengan disabilitas. Ia lahir normal dan sempat mengenyam pendidikan sampai di bangku kelas V di SDN Towuti.

Kelumpuhan datang pada 1996 silam. Ibu kandungnya Hesti, menceritakan, Sulaeman waktu itu hanya terserang demam panas. Lima hari ia dirawat di rumah, baru kemudian dibawa ke puskesmas dan diberi obat.

Meski sudah mengonsumsi obat dari puskesmas, penyakitnya tidak kunjung sembuh, bahkan semakin parah, anaknya malah kesulitan untuk buang air kecil. Tak lama setelah itu kakinya tiba-tiba tidak bisa digerakkan lagi.

Panik, Hesti membawa anaknya ke rumah sakit PT Vale di Sorowako. Hasilnya sama saja, kelumpuhan pada kaki anaknya tetap tidak bisa disembuhkan.

“Sekarang saya pasrah, mungkin ini sudah takdir anakku begini, sejak itulah dia putus sekolah, ” ujar Hesti lirih.

Memulai dari Pelatihan

Sulaeman tahu ia tak seberuntung kawan-kawannya yang bisa bersekolah, bekerja di perusahaan, dan menerima penghasilan tetap. Namun ia menolak kalah, tidak mau menggantungkan hidup pada belas kasihan, entah itu sebagai pengemis di jalan atau di emperan pasar.

Babak baru perjalanan hidupnya dimulai. Pada 2021 ia mengambil keputusan berani, menjadi peternak ayam kampung KUB. Pilihan itu katanya untuk membuktikan diri sekaligus menepis anggapan sebagian masyarakat bahwa penyandang disabilitas tidak bisa diberdayakan.

Langkah pertamanya adalah mengikuti pelatihan yang digelar PT Vale bersama Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar. Unhas terlibat karena menjadi mitra PT Vale Indonesia dalam program hilirisasi.

Dari sana Ia belajar cara merawat anak ayam sejak berumur 14 hari hingga 75 hari, mengatasi penyakit yang kerap menyerang ayam, dan meracik pakan sehat, termasuk membuat jamu khusus ayam.

Mentor juga mengajarinya membuat pembukuan yang rapi agar seluruh aspek usaha bisa dievaluasi. “ Seingat saya berkali -kali pelatihannya saya ikuti, setelah itu barulah saya membentuk kelompok yang beranggotakan 13 orang, Kelompok itu kami namakan Woliko, dan ketuanya saya sendiri.” Kata Sulaeman.

Bantuan PT Vale Tiba Mimpi Jadi Kenyataan

Di pertengahan 2021, usai mengikuti pelatihan, PT Vale menilai Sulaeman cakap menjalankan usaha ternak, tindak lanjut dari keputusan itu, PT Vale Indonesia lewat Program Tanggungjawab sosialnya, menyalurkan berbagai bantuan untuk kelompok Woliko.

Di lahan seluas 15 x 20 meter yang berada di belakang rumahnya, perusahaan membangun dua buah kandang , satu berukuran 5 x 7 meter berkapasitas 250 ekor, satu lagi 2 x 12 meter untuk 200 ekor ayam. Semua kandang sudah dipetak-petak menyesuaikan umur ayam.

Dua buah kandang ini beratap seng, setengah dindingnya terbuat dari papan diatasnya dipasang kawat jaring sehingga sirkulasi udara di kandang sangat baik, tidak pengap dan tidak lembap.

Dibahagian lantainya dicor dengan semen dan dilapisi dengan kulit gabah yang sudah kering.

Sedangkan penerangannya menggunakan aliran listriknya yang bersumber dari panel surya 400 watt. Panel surya dibutuhkan untuk mengantisivasi pemadaman listrik PLN yang bisa berdampak pada kesehatan dan keselamatan ayam.

Agar kandangnya tidak menimbulkan aroma yang tak sedap, setiap minggu Sulaeman menyemprotkan cairan mikroorganisme lokal (MOL) yang dibuat dari nasi.

Selain kandang, Sulaeman menyebut ada lagi bantuan berupa pakan, obat-obatan, bibit ayam, prizer dan timbangan digital. “Saya menganggap komitmen PT Vale luar biasa. Saya bersyukur dan berterima kasih untuk itu. Mereka membangunkan kandang, menyediakan pakan dan obat-obatan, ada panel surya, bibit ayam, timbangan digital, macam-macamlah bantuannya supaya usaha saya berhasil,” kenangnya.

Hari-Hari di Tengah Ayam

Usaha itu kini hampir berusia lima tahun, dan sebagian besar waktu Sulaeman habis tercurah di kandang. Selepas sarapan, ia bergegas dengan kursi roda menuju kandang untuk menemui ayam-ayamnya.

Ia baru keluar ketika ibunya memanggil untuk makan siang, lalu setelah itu masuk lagi kekandang melebur bersama ayam ternaknya. Pada malam hari pun ia masih menyempatkan diri untuk menengok ayamnya dikandang.

” Kedengarannya gila, tapi begitulah faktanya. Saya mau ke mana lagi selain ke kandang ayam. Sekarang, ini sudah jadi kebiasaan hidup saya,” ucapnya.

Baginya, berada di tengah ayam adalah sebuah kebahagiaan tersendiri, bisa mengamati pertumbuhan ternaknya secara cermat dari waktu ke waktu. Kadang tanpa sadar ia berbicara sendiri dengan ratusan ekor ayamnya, tak peduli mereka mengerti atau tidak. Satu hal yang pasti dari interaksi tersebut dia sudah bisa mengenali mana ayam yang kuat makan namun pertumbuhannya kerdil dengan ayam yang cepat besar.

” Dari kebiasaan baru ini, saya menjadi mengerti, ternyata ayam itu mahluk yang peka. Kalau saya bicara dengan suara keras, ayam jadi takut dan liar ditangkap. Sebaliknya jika saya bersuara lembut, kawanan ayam ini jadi jinak. Dari situ saya medapat pengetahuan baru kepada hewanpun kita harus menjaga lisan,” tuturnya.

Sebenarnya ujian terberat dalam usaha ayam kampung ini disaat anak ayam berumur 40 hari. Pada fase itu ayam paling rawan terserang penyakit. Di masa krusial itu tindakan yang dilakukannya rutin melakukan penyemprotan kandang dan terus mengamati kondisi kebugaran ayamnya. Satu ekor saja terlihat lemah itu langsung dipisahkan kekandang isolasi dan diberikan suntikan vaksin serta ramuan khusus.

Panen Lebih Cepat, Pasar yang Menunggu

Bagi Kelompok Woliko memilih ayam KUB untuk sebuah usaha bersama bukan tanpa perhitungan yang jelas. Berdasarkan perbandingan yang sudah disampaikan para pendamping dari Vale Indonesia dan Fakultas Peternakan Unhas, Ayam KUB dianggap cocok dan menguntungkan. Karena ayam KUB sudah diuji di beberapa peternak di Sulawesi Selatan dan hasilnya memuaskan.

Selain itu ayam ini dikenal tahan penyakit sehingga tingkat kegagalannya rendah, masa panennya juga cepat 75 hari. Pada Panen perdana 2021 silam, Sulaeman mengaku sangat puas karena dari 500 ekor bibit yang dibantu oleh PT Vale dari peternakan Unhas, memasuki usia 75 hari sebanyak 493 ekor berhasil dipanen dan terjual habis dengan bobot per ekornya 1,2 kg.

“ Tujuh ekornya mati, ya wajarlah namanya saja mahluk bernyawa toh, ” tandasnya.

Harga jual perekornya Rp.85 000, dengan demikian dalam satu siklus panen Kelompok Woliko berhasil mendapatkan pendapatan sebanyak Rp.41.905.000.

Awalnya pemasaran dibantu penuh PT Vale, setiap kali masa panen PT Vale yang melakukan promosi ke internal karyawannya. Seiring berjalannya waktu usaha ini akhirnya dikenal luas di kecamatan Towuti dan di Kabupaten Luwu Timur, momentum itu dimanfaatkan dengan baik oleh Sulaeman dan kawan-kawan dengan mengambil alih kendali pemasaran.

Mereka sudah bisa memaksimalkan media sosial seperti face book dan group- group whatsaap untuk mempromosikan ayamnya saat panen tiba.

Selain itu mereka juga sudah punya pelanggan tetap seperti rumah makan dangkot yang rutin 100 ekor setiap bulan dan rumah makan ayam goreng yang ada disekitaran Kecamatan Towuti dan Kecamatan Malili.
Selebihnya melayani permintaan kebutuhan rumah tangga yang memesan porsi kecil berkisar Dua sampai Lima ekor.

Berdasakan penjualan yang sudah berkali-kali dilakukan, ayam sebanyak 400 ekor itu tidak cukup satu minggu sudah habis terjual. Makanya kelompok woliko berencana ingin menambah kandang lagi dengan target 1000 ekor.

Rencana ini sudah diperhitungkan dengan matang dengan melihat kondisi Luwu Timur yang sangat heterogen. Dimana setiap pemeluk agama di Luwu Timur punya hari raya keagamaan dan pada moment itu permintaan akan daging ayam kampung sangat tinggi.

Dua siklus panen terakhir di 2026, Sulaeman mengklaim berhasil memangkas waktu panen dari 75 hari menjadi 55 hari dengan bobot 1,1 kilogram. Dengan keterbatasan geraknya sebuah inovasi ia lahirkan lewat racikan pakan yang bisa merangsang pertumbuhan ayam cepat besar dengan bobot yang masuk ukuran Satu kilogram keatas.

“ Ini saya belajar secara autodidak berdasarkan pengalaman setiap hari bersama ayam, ada racikan pakan khusus yang tidak bisa ia sampaikan unsurnya, setelah diuji coba ternyata pada 55 hari sudah bisa panen, hal ini pula yang membuat kami mendapat awards dari PT Vale. “ Ungkapnya.

Tingginya minat masyarakat Luwu Timur akan daging ayam kampung KUB,karena cita rasanya empuk dan sehat untuk tubuh ketimbang ayam potong. Dari persepektif Ilmu gizi dan kesehatan veteriner, daging ayam KUB disebutkan memiliki nutrisi superior, rendah lemak jahat sehingga cocok bagi penderita kolestrol.

Kemudian Riset Universitas Gadjah Mada menyebut kualitas fisik daging ayam KUB stabil, dengan PH rata-rata 6,34 dan tingkat keempukan sekitar 2,36 kg/cm². Dagingnya tidak sekeras ayam kampung liar, tetapi tetap bertekstur liat khas ayam lokal.

Woliko Jadi Proyek Percontohan

Subhan, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Luwu Timur menyebut Kelompok usaha ayam KUB Woliko menjadi pilot project keberhasilan usaha yang dikelola disabilitas di Luwu Timur.

Keberhasilan ini tidak terlepas dari berkolaborasi multi pihak dalam hal ini PT Vale, Fakultas Peternakan Unhas dan Pemerintah Luwu Timur dalam mempertajam skema hilirisasi lewat penguatan program pemberdayaan yang menyetuh kelompok rentan.
“ Ini salah satunya kelompok rentan yang dibina PT Vale lewat program Hilirisasi yang berhasil dan bagi Pemda Luwu Timur dijadikan proyek percontohan. “ Kata Subhan.

Nyaris Gagal karena BBM Langka

Perjalanan usaha ini tak selalu mulus. Pada suatu hari di September 2026, ratusan ekor bibit ayam yang dikirim dari Peternakan Unhas Makassar nyaris mati semua. Sebuah bus yang membawa pesanan bibit tersebut ketika tiba pagi di Sorowako Kecamatan Nuha, tidak bisa melanjutkan lagi perjalanannya ke Kecamatan Towuti lantaran mobil sudah kehabisan bahan bakar. Akhirnya Sopir bus tersebut ikut antrean di SPBU Sorowako.
“Saya sudah gelisah, hari sudah sore anak ayam belum tiba. Biasanya paling lambat pukul 10 pagi barangnya sudah tiba. Setelah ditelusuri sopirnya ikut antrean BBM di SPBU Sorowako, “ Kata Sulaeman.

Akhinya sore itu juga beberapa anggota kelompok bergerak menjemput bibit ayam tersebut. Saat tiba di kandang semua anak ayam sudah lemas bahkan beberapa ekor ada yang mati akibat kepanasan didalam bagasi bus. Kondisi ini membuat Sulaeman tidak nyaman.

Mereka berusaha semaksimal mungkin melakukan upaya pemulihan. Pengetahuan yang ia dapat dari mengikuti pelatihan langsung diterapkan. Perlakuan pertama sebanyak ratusan ekor bibit ayam tidak langsung dikandangkan, melainkan di lepas bebas diarea terbuka yang teduh agar bisa leluasa menghirup udara.

Setelah itu semua anak ayam itu diberikan minuman jamu khusus yang terbuat dari berbagai bahan rimpang . Hasilnya efektif dari 400 ekor bibit ayam itu yang mati hanya 14 ekor saja.

Hilirisasi Berkeadilan menepis stigma negatif Kaum Disabilitas

Selama 58 tahun beroperasi di Kabupaten Luwu Timur, PT Vale tidak semata-mata hanya mengeksploitasi nikel Luwu Timur. Perusahaan secara konsisten melaksanakan komitmen tanggungjawab sosial untuk mendukung kemandirian lokal di semua wilayah pemberdayaannya.

Konsep hilirisasi PT Vale Indonesia bukanlah semata – mata mengolah bahan mentah menjadi barang jadi. Untuk perspektif hilirisasi disabilitas fokus perusahaan mengubah potensi bakat menjadi kemandirian ekonomi yang berkelanjutan melalui ekosistem yang inklusif.

Target jangka panjangnya, secara ekonomi hilirisasi untuk kaum disabilitas bisa mengubah status dari penerima bantuan (charity) menjadi pelaku ekonomi aktif sehingga tumbuh kemandirian sosial.

Keberhasilan Kelompok Woliko dengan usaha ternak ayam KUB menjadi fakta, bahwa Lewat program hilirisasi ini kelompok rentan yang dibina bisa berdayaguna sehingga dalam kehidupan sosial bisa mengikis stigma negatif terhadap kaum disabilitas itu sendiri.

Dengan demikian korporasi berhasil menciptakan sebuah tatanan kesetaraan hak dimasyarakat dalam menerima manfaat dari sebuah perubahan akibat aktivitas pertambangan.

Dalam sebuah diskusi tentang program hilirisasi, Senior koordinator PTPM Livelihood, Zaenap Husaien Paragay mengatakan kaum disabilitas dan kelompok rentan lainnya sangat merasakan dampak dari satu perubahan akibat aktivitas penambangan.

PT Vale memahami kondisi sosial tersebut, maka jalan keluar untuk menuju kesetaraan hak itu disusunlah skema terbaik dari konsep hilirisasi yang menyentuh pada kelompok rentan yang berada di semua wilayah pemberdayaan PT Vale termasuk Kecamatan Towuti.

Program ini wajib ditunaikan agar konsep pertambangan berkelanjutan (sustainable mining ) serta pertambangan yang baik ( good mining practice ), bisa berajalan seiring dengan denyut kehidupan warga yang tinggal di lingkar tambang PT Vale.

“ Melalui vilar Environmental, Social, and Governance ( ESG) PT Vale merancang proyek masa depan untuk memberi ruang hidup bagi mereka yang memiliki keterbatasan dan alhamdulillah berhasil menembus batas.” Ujar Zaenab.

Siang itu di Matompi, kokok ayam masih bersahutan dari kandang di belakang rumah. Bagi Sulaeman Roka, suara itu bukti bahwa keterbatasan tak harus menjadi batas. (oks)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Pasca-Praperadilan Ditolak,Gakum Selidiki Peran Ali Kamri Nawir di Balik Karhutla dan Perambahan Loeha Raya

23 Okt 2026 - 12:06 WITA

Pasca-Praperadilan Ditolak,Gakum Selidiki Peran Ali Kamri Nawir di Balik Karhutla dan Perambahan Loeha Raya

Vale Indonesia Berpartisipasi Aktif Tangani Karhutla di Wilayah IGP Pomalaa

23 Okt 2026 - 02:37 WITA

Vale Indonesia Berpartisipasi Aktif Tangani Karhutla di Wilayah IGP Pomalaa

Konsulidasi PDIP Luwu Timur Perkuat Ranting dan Anak Ranting Menghadapi Pemilu 2029

22 Okt 2026 - 11:38 WITA

Konsulidasi PDIP Luwu Timur Perkuat Ranting dan Anak Ranting Menghadapi Pemilu 2029
Trending di BERITA