OKSON, LUWU TIMUR, – Hari itu cuaca di Desa Matano Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur sangat cerah. Angin Danau Matano bertiup sangat lembut , sejuk, tidak berdebu tidak juga terdengar kebisingan suara mesin kendaraan alat berat dari areal tambang PT Vale.
Desa Matano adalah sebuah desa kecil yang tenang dan nyaman, semua yang ada dikampung itu terkesan masih asli. Menandakan desa tersebut steril dari hiruk pikuk latahnya kemajuan zaman.
Yang berubah hanyalah jalan. Hampir semua akses didalam dikampung itu sudah di beton dan penerangan lampunya sudah menggunakan jaringan listrik PLN.
Perangai warga sangat ramah dan sopan, mereka lebih duluan menyapa manakala bertemu tamu yang datang di desa mereka. Inilah kesan mendalam ketika menginjakkan kaki di desa tersebut.
Data dari pemerintah Kabupaten Luwu Timur menuliskan jumlah penduduk Desa Matano sekitar 1.517 jiwa. Luas wilayahnya hanya 242 kilo meter persegi lebih kecil dari luasnya permukaan Danau Matano yang mencapai 16.408 kilo meter persegi. Sebab itu denyut kehidupan warga setempat sangat terintegrasi dengan Danau Matano.
Meskipun berada di kawasan pertambangan nikel PT. Vale Sorowako, mayoritas penduduknya sejahtera dengan berkebun merica, bersawah, menjadi jasa transportasi penyeberangan danau. Hanya sedikit yang jadi karyawan PT. Vale dan men jadi Aparat Sipil Negara (ASN).
Berdasarkan peta koorporasi, desa ini
masuk dalam Blok Sorowako wilayah konsesi penambangan PT Vale. Namun selama 58 Tahun PT Vale beroperasi kondisi desa tersebut belum pernah tersentuh alat – alat berat PT Vale. Padahal isi bumi desa Matano adalah Nikel.
Di penghujung desa itu tak jauh dari sumur Bura – Bura yang sangat dilegendakan masyarakat setempat berdiri sebuah bangunan berbentuk segi tiga. Itulah Galeri Pusaka Gamara Matano.
Di dalam bangunan itu dipajang berbagai artepak sejarah yang merefleksikan dengan kental aktivitas kehidupan masa lampau di kawasan Matano.
Seperti bilah parang, tombak, kawali ( badik ), kapak, keris, topi perang dan aneka tembikar. Benda – benda pusaka itu adalah maha karya dari leluhur yang masih utuh melintasi perjalanan waktu yang sangat panjang.
Membaca manuskrip Lontara I Lagaligo tentang perdaban Tana Luwu, Matano disebutkan masuk dalam wilayah Kedatuan ( kerajaan ) Luwu. Dia satu kesatuan dengan Pegunungan Verbeek dan kompleks Danau Matano – Mahalona yang terkenal sebagai daerah penghasil bijih besi nikel berkualitas tinggi di Luwu Timur.
Pada abad ke – 8 Masehi, peradaban besi matano sudah mendunia.
Dimasa itu penduduk setempat sudah menguasai teknik peleburan besi. Untuk mendapatkan bahan besi terbaik mereka sudah mampu melakukan pemisahan batu kapur yang mengikat di logam besi dengan cara dibakar pada suhu yang sangat tinggi.
Setelah logam besi berhasil di produksi barulah kegiatan penempaan dilakukan. Para ahli arkeologi dan metalurgi menyebut itu adalah peradaban besi kuno tertua di nusantara.
Besi Matano atau besi Luwu sangat superior kala itu, terkenal dengan besi yang berkualitas tinggi, kuat, ringan, tidak mudah berkarat dan punya pamor karena mengandung nikel alami.
Kejayaan besi dari Tana Luwu ini juga dikisahkan dalam juga kitab Negarakertagama. Empu Prapanca pada 1365 Masehi menyebut nama Luwu sebagai pusat metalurgi terbesar di nusantara pada abad ke – 14 Masehi.
Sehingga di zaman keemasan itu kerajaan Majapahit membagun kerjasama perdagangan besi dengan kerajaan Luwu termasuk melakukan pertukaran empu atau pandai besi di dua kerajaan. Dari proses akulturasi keahlian ini lahirlah varian keris-keris Luwu yang memiliki kemiripan bentuk dengan keris di tanah Jawa.
Kemudian penelitian yang dilakukan Pusat Penelitian Arkelogi Nasional yang dipimpin oleh Rr Triwurjani pada 2016 sampai 2019, menyimpulkan tidak diragukan lagi bahwa kawasan Danau Matano merupakan pusat industri besi tertua yang sangat terkenal pada masa lalu.
Era suram kejayaan Besi
Kini kisah kejayaan pandai besi yang handal menempa besi Luwu itu telah redup. Pamor kedigdayaannya tenggelam oleh perkembangan zaman.
Ekspansi investasi yang membawa teknologi manufaktur peleburan besi baja yang lebih mutakhir telah melahirkan sebuah peradaban baru telah menggeser nilai – nilai kearifan lokal.
Keterpurukan ini berlangsung cukup lama, Para tetua dan sesepuh di Tana Luwu tidak bersemangat lagi untuk menuturkan kisah heroik para penempa besi Luwu. Karena itu dianggap hanyalah bahagian masa lalu.
Di rumah – rumah penduduk, benda – benda pusaka kuno yang bernilai tinggi hanya menjadi barang antik saja. Dipajang menjadi aksesoris untuk memperindah ruang tamu .
Dimasa kelam itu pula perburuan barang antik di Tana Luwu kian tak terkendali. Dimana – mana situs bersejarah dibongkar dan benda – benda bersejarah dijarah lalu dijual kepada kolektor yang datang dari dalam dan luar negeri.
Akhirnya jejak kebanggaan itu pun lenyap satu – persatu akibat perdagangan gelap benda – benda pusaka.
Dampaknya sangat fatal, generasi muda Luwu menjadi “gagap ” di kampung sendiri. Nyaris lupa akan identitasnya.
Suatu hari, Bahar, seorang sahabat yang berprofesi sebagai guru sejarah di salah satu SMA ternama di Luwu Timur pernah mengeluh.
Ia prihatin siswa yang diajarnya tidak tahu soal peradaban besi Luwu yang pernah jaya di masanya.
” Peradaban Luwu yang mereka pahami itu sebatas nama- nama Raja Luwu, letak istana Kedatuan di kota Palopo. Dan kisah – kisah pemberontakan Kahar Mudzakar di Luwu. Pengetahuan siswa soal peradaban besi yang gemilang itu sama sekali nol. “Ujarnya.
Matano bukan sekedar desa, dari daratan hingga di kedalaman air danaunya adalah warisan dunia yang keberadaanya harus terus dijaga dan dirawat.
Konsep sustainable mining PT Vale memecah Kebuntuan
PT Vale hadir dan mengeksploitasi kekayaan alam di Luwu Timur sudah berlangsung 58 tahun lamanya. Sistem penambangan yang dilakukan sangat terukur, mengikuti tata kelola pertambangan yang benar.
Kehadirannya tidak sebatas mengambil material nikel. Tanggung Jawab Sosial Lingkungan ( TJSL ) dari sebuah konsekswensi yang timbul dari kegiatan penambangan, secara konsisten dilaksanakan setiap tahun untuk warga yang tinggal dalam wilayah konsesi PT Vale.
Program ini wajib ditunaikan agar konsep pertambangan berkelanjutan (sustainable mining ) serta pertambangan yang baik
( good mining practice ), bisa berajalan seiring dengan denyut kehidupan warga yang tinggal di lingkar tambang PT Vale.
Melalui vilar Environmental, Social, and Governance ( ESG) PT Vale merancang proyek masa depan untuk memberi ruang hidup peradaban budaya Luwu yang nyaris punah.
Dalam sebuah diskusi ringan yang berlangsung di meja bundar Taman Antar Bangsa PT Vale, Endra Kusuma selaku Director of External Relations dan Corporate Affairs at Vale mengatakan, investasi PT Vale di Luwu Timur dianggap gagal jika keberadaannya menghilangkan identitas budaya dan sejarah peradaban yang ada di wilayah pemberdayaannya.
Dia menegaskan PT Vale bukan VOC, datang mengambil kekayaan alam, mengadu domba warga, mengintimidasi lalu pergi meninggalkan duka lara yang panjang buat warga pribumi.
Setiap problem sosial yang bersinggungan dengan oprasional PT Vale selalu diselesaikan dengan humanis lewat forum dialog yang inklusif.
Kembali ke Matano, Endra Kusuma mengakui disana banyak jejak peradaban tua yang harus dijaga dan dilestarikan keberadaannya.
Ruang ini kian terbuka menyusul ditetapkannya Desa Matano oleh pemerintah pusat sebagai salah satu desa wisata budaya di Indonesia 2022 silam.
Sebagai desa wisata yang memiliki peradaban tinggi, lewat sustainable mining, andil PT Vale sangat dominan.
Manajemen PT Vale berhasil mensinergikan kebijakan pusat, Kebijakan daerah Luwu Timur masuk kedalam dalam program Tanggung Jawab Sosial PT Vale untuk pengembangan Desa Matano. Sehingga kontribusi PT Vale untuk pengembangan wisata budaya Desa Matano sangat besar.
Kontribusi nyata itu bisa dilihat dengan berdirinya bangunan Galeri Pusaka Gamara Matano sebagai tempat penyimpanan benda – benda purbakala.
Membangun pusat pelestarian peradaban budaya Luwu, membina dan mengembangkan produk UMKM kerajinan kriya, Penataan situs – situs budaya mulai wilayah daratan hingga di kedalaman 15 meter danau matano ditemukan penyelam ada jejak tungku penempaan besi.
Dalam beberapa literasi menyebutkan, jejak tungku penempaan besi yang ada di bawah air ini adalah perkampungan yang ditinggalkan penduduk saat terjadi gempa tektonik. Patahan dari gempa besar itu membentuk sebuah danau purba bernama Danau Matano.
Tak hanya itu, PT Vale juga mengemas obyek wisata sumur Bura – Bura yang dikeramatkan dan diyakini warga sebagai sumber mata air Danau Matano menjadi lebih menawan.
Selanjutnya menata keunikan obyek wisata permandian Laa Waa River Park yang mengalirkan air hangat dan dingin.
Termasuk melakukan pipanisasi air bersih untuk kenyamanan pengunjung dan penduduk setempat.
Tak sampai disitu saja, tradisi pandai besi yang sempat punah dihidupkan kembali, para penempa besi tradisional dari berbagai daerah di Tana Luwu dipersatukan dalam sebuah perkumpulan bernama Pompessi Luwu.
Perusahaan juga bersedia mendanai setiap kegiatannya, dan klimaksnya semua hasil tempaan berupa kawali, Keris dan berbagai macam benda tajam berbahan besi Luwu diperkenalkan pada publik lewat sebuah pameran benda pusaka tana luwu yang rutin di gelar setiap tahun.
Program ini berhasil memecahkan kebuntuan genarasi Luwu yang nyaris kehilangan identitasnya. Penguatan literasi tentang peradaban Luwu terus digiatkan. Desa Matano kini sudah menjadi reperensi sejarah Luwu.
” Ini adalah proyek Tanggung Jawab Sosial Lingkungan yang di warisi PT Vale agar lintas generasi Tana Luwu tidak kehilangan identitas, mereka kini bisa belajar lebih dalam dan tahu bahwa di seputaran celah tambang kompleks Matano ada peradaban tua Tana Luwu yang pernah mashur dan punah kini hidup kembali dan lestari.
Inilah salah satu cara PT Vale menjaga ekosistem alam sebagai ruang hidup sosial budaya agar tetap lestari sepanjang masa. Tutup Endra. ( Abdul.Rahim /***)








