Ribuan warga memadati Gedung Graha Pena Makassar dalam acara halalbihalal yang digelar Badan Pengurus Wilayah Kerukunan Keluarga Luwu Raya Sulawesi Selatan. Momen tahunan ini diubah menjadi ajang konsolidasi perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya, dengan sekitar 500 peserta yang hadir dari kalangan pejabat pusat hingga daerah, legislator, akademisi, tokoh adat, pemuda, mahasiswa, serta organisasi masyarakat. Antusiasme luar biasa terpancar dari seluruh lapisan yang hadir, menandakan kepedulian serius terhadap wacana pemekaran wilayah.
Hasbi Syamsu Ali selaku Ketua BPW KKLR Sulsel menegaskan bahwa penyelenggaraan acara ini berbeda total dari tahun-tahun sebelumnya. Kegiatan yang juga dirangkaikan dengan Dzikir Akbar dalam peringatan Hari Perjuangan Rakyat Luwu ke-80 tersebut sepenuhnya dibiayai dari swadaya masyarakat. Pihaknya sengaja tidak membuka donasi dari Vale, Masmindo, maupun BMS, dengan harapan perusahaan-perusahaan raksasa itu nantinya mampu memberikan dukungan yang lebih besar bagi perjuangan panjang ini. Pernyataan tersebut langsung disambut tepuk tangan riuh dari para hadirin.
Konsep pendanaan menggunakan sistem curun-curun yang merupakan gotong royong khas Wija to Luwu ini dinilai sebagai simbol kekuatan kebersamaan. Hasbi menyampaikan bahwa momen halalbihalal menjadi titik awal untuk kembali menyatukan kekuatan yang sempat terpecah. Cita-cita Provinsi Luwu Raya hanya akan terwujud apabila seluruh sektor mampu bersinergi secara solid, dan energi dari berbagai elemen masyarakat harus kembali dipersatukan untuk tujuan bersama.
Tema yang diusung dalam acara ini adalah Merajut Ukhuwah, Memperkuat Spirit Perjuangan Provinsi Luwu Raya. Ketua Panitia Ir Ahmad Huzaen menyampaikan bahwa partisipasi tinggi yang terjadi kali ini merupakan bukti solidaritas masyarakat yang tidak pernah pudar. Ikatan emosional warga Luwu Raya dinilai masih sangat kuat dalam memperjuangkan aspirasi pembentukan daerah otonom baru.
Dalam kesempatan tersebut, dilakukan penyerahan dokumen penting secara simbolis oleh Rektor Universitas Andi Djemma Palopo, Dr. Ir. H. Anas Boceng, kepada Ketua Badan Pekerja Pemekaran DOB Provinsi Luwu Raya, H. Darwis Ismail. Naskah akademik setebal hampir 700 halaman tersebut merupakan hasil kerja sekitar 20 akademisi selama empat bulan. Anas Boceng menjelaskan bahwa kajian ini tidak hanya membahas aspek administratif, melainkan juga menembus strategi nasional sesuai regulasi yang berlaku, sehingga membuka ruang alternatif yang lebih luas bagi perjuangan pembentukan provinsi.
Forum diskusi tematik dengan tajuk Progres dan Tantangan Pembentukan Provinsi Luwu Raya turut memeriahkan acara. Udhi Syahruddin Hamun selaku Wakil Sekjen BPP KKLR bertindak sebagai moderator, menghadirkan sejumlah narasumber penting seperti akademisi Universitas Hasanuddin Dr Hasrullah, Wakil Rektor IV Unanda Dr Abdul Rahman Nur, dan Ketua BPP DOB Luwu Raya H. Darwis Ismail. Dari diskusi ini terungkap bahwa perjuangan tersebut telah memperoleh rekomendasi resmi dari sejumlah pemerintah daerah dan DPRD di wilayah terkait.
Seluruh pembicara sepakat bahwa pembentukan provinsi baru bukanlah sekadar persoalan administrasi. Kehadiran Provinsi Luwu Raya merupakan kebutuhan strategis guna mendorong pemerataan pembangunan serta meningkatkan kualitas pelayanan publik. Wilayah ini memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah dalam sektor kelautan, kehutanan, dan energi, sehingga dinilai memiliki fondasi kuat untuk menjadi provinsi yang mandiri.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, diperkenalkan inisiatif baru bernama Program Serbu Luwu Raya yang merupakan kampanye donasi publik untuk menggalang dana perjuangan. Aspirasi yang terus digaungkan ini, menurut sejumlah kepala daerah dan tokoh masyarakat yang hadir, harus diperjuangkan dengan pendekatan terukur dan penuh kehati-hatian agar tidak memicu gejolak. KKLR Sulsel berharap konsolidasi yang terbangun melalui momentum halalbihalal ini mampu menjadi batu pijakan kokoh guna mengakselerasi terwujudnya Provinsi Luwu Raya dengan semangat kebersamaan yang membara.








